Share it

(dimuat di Majalah Samudera bulan September 2012, rubrik Opini)

Berdasarkan angka statistik FAO tahun 2010, tidak bisa dipungkiri bahwa negara super power penghasil ikan dari budidaya adalah RRT dengan produksi per tahun mencapai 36.734. 215 ton (tiga puluh enam juta ton lebih) dan mengambil porsi 61.4% dari produksi ikan budidaya dunia. Total produksi ikan dunia dari  budidaya dan penangkapan sebesar 148 juta ton pada tahun 20110 dengan nilai 217,5 Milyar USD dan pada tahun 2011 ada kecenderungan produksi naik menjadi 154 juta ton. Sementara itu pertumbuhan pasokan ikan mengalami kenaikan per tahun rata-rata 3.2%, melebihi pertumbuhan penduduk rata-rata 1.7% per tahun yang berarti ada kenaikan konsumsi rata-rata per kapita. Pada th 2009, konsumsi ikan per kapita rata rata sebesar 9.9 Kg pada tahun 1960 an dan 18.4 pada tahun 2009. Benua Afrika menduduki peringkat terbawah konsumsi ikan per kapita sebesar 9.1 Kg sedangkan  Asia rata-rata sebesar  20.7 Kg per kapita. Bandingkan dengan Indonesia, produksi ikan budidaya mencapai 6.2 juta ton dan konsumsi ikan per kapita sebesar 30.48 Kg. Jika dibandingkan dengan RRT dalam hal produksi ikan budidaya, tentu Indonesia tertinggal jauh, namun dalam hal konsumsi ikan per kapita sedikit berbeda, dimana konsumsi ikan per kapita di China sebesar 31.9 Kg. Jika Indonesia mampu mengalahkan China dalam hal produksi ikan budidaya, maka Indonesia bisa menjadi negara produsen ikan terbesar dunia. Pertanyannya mungkinkah ?

Kondisi obyektif perikanan Indonesia saat ini dapat digambarkan secara umum sebagai berikut:

Pertama, perikanan tangkap sulit untuk ditingkatkan produksinya karena hampir semua WPP (wilayah pengelolaan perikanan) sudah terjadi overfishing atau fully exploited. Belum lagi illegal fishing terutama oleh kapal-kapal asing masih marak sehingga sulit diharapkan peningkatan nilai ekonomi dari perikanan tangkap secara significant.

Kedua, ekspor ikan meningkat karena produksi ikan budidaya meningkat dan terjadi peningkatan nilai tambah dari industri pengolahan, pada tahun 2011 mencapai 3.2 milyar dollar US dan nilai impor 486 juta dollar US. Berarti dari perspektif perdagangan Indonesia masih dominan sebagai eksportir ikan. Kecenderungan peningkatan impor terjadi pada jenis ikan tertentu seperti ikan Dori (bahasa Indonesianya Patin), Salmon, Gindara, Mackerel, Kakap Merah  yang diperuntukkan untuk bahan baku ikan olahan seperti pindang dan industri fillet serta pasokan ke hotel dan restoran. Impor ikan tidak bisa dihindari karena memang secara alami dibutuhkan sesuai sifat ekonomi supply-demand. Apabila Indonesia menggenjot produksi ikan, maka perlu ekspor yang berarti perlu importir, berarti Indonesia juga tidak boleh stertil untuk impor ikan karena ada negara lain juga akan mengekspor ikan. Peluang untuk ekspor ikan masih terbuka luas dan bahkan Indonesia belum dapat memenuhi permintaan berbagai negara untuk jenis ikan tertentu akibat produksi terbatas.

Ketiga, Indonesia memiliki potensi lahan budidaya ikan yang sangat luas baik air tawar maupun air laut, sangat dimungkinkan  untuk menggenjot produksi budidaya dengan target produksi melebihi RRT, pemanfaatan perairan budidaya belum sampai 10% dari carriying capacity. Namun, ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam usaha budidaya yang menyebabkan kurang diminati, antara lain: mahalnya harga pakan sebagai akibat bahan baku utama pakan ikan masih sepenuhnya impor; masih terbatasnya pasokan benih dari hatchery sehingga transportasi benih akan terlalu mahal untuk daerah tertentu; masih terbatasnya akses transportasi laut ke daerah-daerah potensial untuk pengembangan budidaya terutama ke pulau-pualu kecil.

Dari ketiga kondisi tersebut, seharusnya KKP lebih fokus untuk menggenjot produksi ikan budidaya agar sektor Perikanan dapat menjadi andalan ekonomi nasional. Ada beberapa alasan penting kenapa sudah saatnya Indonesia menggenjot budiaya ikan dengan sasaran ambisius menjadi produsen ikan terbesar dunia mengalahkan RRT:

Pertama, peningkatan produksi dari perikanan tangkap sudah tidak dimungkinkan lagi karena sudah overfishing dan perlu pemulihan stok ikan di berbagai kawasan. Tingkat produksi saat ini sekitar 6 juta ton per tahun sudah mendekati MSY (Maximum Sustainable Yield), belum lagi data tangkapan yang tidak dicatat akibat IUU (illegal, unreported, unregulated) fishing.

Kedua, ikan merupakan komoditas strategis sebagai salah satu unsur untuk menjaga ketahanan pangan karena kandungan proteinnya sangat tinggi. Sementara itu kebutuhan akan ikan baik untuk memenuhi konsumsi masyarakat dengan meningkatknya preferensi masyarakat terhadap ikan maupun untuk ekspor makin meningkat.

Ketiga, peluang pasar (daya serap pasar) dunia terhadap produk ikan makin tinggi sebagai dampak makin meningkatnya konsumsi dan permintaan (demand jauh lebih tinggi dari supply). Jika Indonensia terlambat mengisi potensi pasar, sudah dipastikan akan diisi oleh negara lain seperti: Vietnam, Malaysia, Phillipine yang akhir akhir ini memprogramkan budidaya dan produksi ikan dalam skala besar sebagai prioritas. Bahkan kita saat ini mengimpor ikan Patin (nama Vietnam Dori) dari Vietnam dan produk olahan serta Lele dari Malaysia.

Keempat, semua  faktor produksi budidaya ikan dapat disediakan di Indonesia meliputi lahan (perairan tawar dan laut sangat luas = tidak terbatas); benih ikan dapat diproduksi sendiri (jenisnya sangat beragam); pakan sudah dapat diproduksi di dalam negeri, sarana produksi seperti Kerambah Jaring Apung, jaring sudah dapat diproduksi di dalam negeri.

Masalah utama dalam usaha budidaya adalah tingginya harga pakan dan minimnya ketersediaan benih (untuk beberapa jenis ikan bahkan terjadi kelangkaan). Tingginya harga pakan berdampak langsung kepada harga pokok produksi mahal dan akan melemahkan daya saing. Contoh harga Patin import dari Vietnam lebih murah dibandingkan harga Patin lokal, harga Lele di Batam impor dari Malaysia lebih murah dari harga dari P. Jawa. Keterbatasan benih ikan akan menyulitkan pembudidaya dalam memilih jenis ikan yang cocok. Secara umum, Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan negara lain dalam faktor produksi budidaya ikan, yaitu ketersediaan perairan baik darat maupun laut. Konfigurasi geografis Indonesia yang berada disekitar Khatulistiwa dengan pesisir dan pulau-pulau kecil dalam jumlah besar memungkinkan untuk usaha budidaya baik ikan air laut, air payau maupun air tawar dalam tingkat produksi masal.

Sebagai contoh salah satu keunggulan jenis ikan yang bernilai mahal dan sudah dikembangkan dengan baik di Indonesia adalah Kerapu Macan dan Bawal Bintang. Kedua jenis ikan tersebut memerlukan lahan perairan laut yang bersih dan bebas pencemaran dan dapat dikembangkan di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil di seluruh penjuru tanah air. Tingkat keuntungan (profitabilitas) usaha budidaya kedua jenis ikan tersebut sangat menjanjikan dengan daya serap pasar sangat terbuka.

Untuk Kerapu Macan secara umum dapat dihitung sbb:

  • Harga jual hidup per Kg diambil di Kerambah = Rp 130,000, jika dijual di pengumpul di Jakarta sekitar Rp 150,000.
  • Harga benih per cm = Rp 1000,-, biasanya ditebar di Kerambah Jaring Apung (KJA) ukuran 7 Cm atau seharga Rp 7000,-.
  • FCR (food conversion ratio) = 2,5, artinya diperlukan pakan 2,5 Kg pelet ikan untuk menghasilkan pertumbuhan 1 Kg berat ikan.
  • Padat Tebar rata-rata = 100 ekor per M3 air.
  • Usia pemeliharaan dari tebar sampai panen (ukuran 400 gram per ekor) = 8 bulan.
  • Harga pakan = Rp 16,500 per Kg pelet.
  • SR (survival rate) = 80%, artinya tingkat kematian ikan 20% berarti jika ditebar 10,000 ekor akan dipanen 8,000

Apabila ditebar benih Kerapu Macan 10,000 ekor maka biaya yang diperlukan  adalah:

  • Benih ikan = 10,000 x Rp 7,000 = Rp 70,000,000,-
  • Biaya pakan = 2.5 (FCR) x 10,000 ekor x 400 gram x Rp 16,500,- = Rp 165,000,000
  •  KJA diperlukan = 10,000/100 = 100 M3 atau 3 lubang ukuran 4×4 M dengan kedalaman jaring 3 meter. Harga per lubang KJA (kualitas terbaik bahan HDPE= High Density Pollyethilene) = Rp 30 juta, biaya KJA total = 3x Rp 30 juta = Rp 90,000,000,-. Pembebanan biaya KJA per panen = 10% harga dengan asumsi usia KJA = 10 kali panen. Berarti biaya KJA = Rp 9,000,000,-
  • Upah tenaga kerja = 3 orang x Rp 1,000,000,- per bulan x 9 bulan = Rp 27,000,000,-
  • Biaya lain-lain = Rp 10,000,000,-

Jadi total biaya produksi Kerapu Macan 10,000 ekor = Rp 281,000,000,-, sedangkan harga jual = Rp 130,000,- x 8,000 ekor x 0.4 = Rp 416,000,000,-. Berarti diperoleh laba sebesar Rp 135,000,000,- atau tingkat profitabilitasnya sebesar 48%. Demikian pula dengan Bawal Bintang, harga penjualan sekitar Rp 50,000 per Kg diambil di tempat, dengan formula perhitungan yang hampir sama akan mendapatkan profitabilitas sekitar 40% dalam waktu selama 6 bulan.

Budidaya ikan air tawar seperti Lele, Patin dan Nila akan menghasilkan laba marjinal lebih kecil, lahan lebih dekat dengan pemukiman tidak perlu ke laut dan pasar dalam negeri sangat menjanjikan. Namun banyak kasus terjadi kegagalan akibat pencemaran di perairan yang sudah over capacity seperti di Danau Cirata, kelangkaan benih ikan dan mahalnya pakan. Kedua jenis budidaya baik air tawar maupun laut tidak bisa terlepas dari kemungkinan wabah penyakit seperti Virus dan Bakteri yang diakibatkan oleh pencemaran atau kondisi perairan yang ekstrim maupun penanganan yang kurang antisipatif. Artinya, prospek usaha budidaya ikan sangat menjanjikan namun memiliki resiko gagal jika tidak ditangani dengan serius dan profesional.

Oleh karenanya, sudah seharusnya jika KKP  menjadikan usaha budidaya ikan sebagai  program unggulan dalam rangka menggenjot produksi ikan nasional yang merupakan strategi jangka panjang dan  menjadikan sektor perikanan menjadi mainstream pembangunan nasional. Untuk mewujudkan hal tersebut, KKP diharapkan  berperan dalam hal: penyediaan benih ikan secara masal dengan mengembangkan hatchery melalui balai maupun milik masyarakat; menekan harga pakan dengan swa sembada pakan ikan; dan melakukan pembinaan terhadap pembudidaya melalui penyuluhan secara gratis.

Dikupas oleh Dr. Aji Sularso, Pengamat Kelautan dan Perikanan