Share it

Dimuat di: Majalah Samudra Desember 2012

Alih alih belum jelas betul program yang digagas oleh KKP yaitu Industrialisasi yang cukup intensif diiklankan di media TV, dan dalam waktu yang sama meluncurkan blue economy. Yang pasti sejak kedua program mulai digagas sejak awal tahun 2012 sampai saat ini belum terasa dampaknya bagi peningkatan kinerja sektor Kelautan dan Perikanan maupun peningkatan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya.  Ada kesamaan dan perbedaan industrialisasi dan blue economy baik secara konsep maupun praktik. Industrialisasi lebih fokus kepada suatu proses nilai tambah menerapkan teknologi dari bahan baku diolah menjadi suatu barang jadi. Blue economy merupakan proses daur ulang suatu sisa produk dari industri, atau dari sumber daya alam langsung diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan sosial. Blue economy bisa juga berupa jasa lingkungan dan bukan hanya produk barang yang diproses.

Penulis ingin mengingatkan kembali bahwa penggagas orsinil konsep Blue Economy adalah Prof. Gunter Pauli seorang Peneliti dari Amerika Serikat, diluncurkan pada tahun 2010 di Hawaii.  Visi dari Blue Economy adalah: “to create 100 million job by 2020”. Sudah ada  100 inovasi blue economy, sepertiganya sudah diimplementasikan di  berbagai perusahaan seluruh dunia, sepertiganya berstatus prototype, dan sepertiganya merupakan hasil penelitian yang teruji namun masih memerlukan riset lanjutan untuk menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Blue Economy secara konseptual ditujukan untuk menjawab semua kebutuhan dasar dengan apa yang kita miliki. Blue Economy merupakan suatu cara baru dalam merancang bisnis yaitu memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam mengalirkan sitem, dimana limbah suatu produk menjadi input untuk menciptakan suatu aliran uang  (cash flow) baru. Dengan cara tersebut akan tercipta tenaga kerja, modal sosial terbentuk dan pendapatan bertambah, sambil lingkungan untuk menyangga kehidupan kita tidak lagi rusak dan terpolusi. Contoh inovasi produk dari Blue Economy yang sudah dipasarkan antara lain pembuatan plastik dari polusi asap pabrik berupa CO2 yang diproses dengan katalis Cinc dan Cobalt, pembuatan super antena dengan super formula terbuat dari bahan plastik yang jauh lebih murah dari antene dengan bahan logam dll. Intinya Blue Economy berbasis kepada suatu produk barang yang diolah dengan mengadopsi sifat alam dan memanfaatkan yang tersedia disekeliling kita, memanfaatkan apa yg tidak berguna menjadi produk kebutuhan kita. Ada 21 prinsip Blue Economy yang semuanya berbasis alam, intinya semua kebutuhan manusia tersedia di alam, namun perlu dioptimalkan jangan sampai ada yang dibuang. Dari 21 prinsip, ada 3 prinsip yang dapat dijadikan acuan untuk pengembangan di sektor kelautan yaitu:

Prinsip nomor 4: “Nature is eveloved from few species to a rich biodiversity. Wealth means diversity. Industrial standarization is contrary”. Artinya alam berevolusi dari sejumlah spesies menuju kekayaan keanekaragman hayati. Sejahtera berarti keragaman. Standarisasi industri merupakan hal sebaliknya.

Prinsip nomor 20: “Nature searches for economies of scope. One natural innovation carries various benefit for all”. Artinya: alam mencari ekonomi yang berlingkup. Begitu inovasi alam dilaksanakan membawa berbagai manfaat bagi semua.

Prinsip nomor 21: “Respond to basic need with what you have, introducing innovation inspired by nature, generating multiple benefits, including jobs and social capital, offering more with less: This is the blue economy”. Artinya: menjawab kebutuhan dasar dengan apa yang anda miliki, memeperkenalkan inovasi yang diinspirasi oleh alam, menghasilkan manfaat ganda, termasuk lapangan pekerjaan dan modal sosial, menawarkan kelebihan dengan kekurangan: Ini adalah ekonomi biru.

Dalam prinsip nomor 4 tersebut terlihat jelas bahwa blue economy mengedepankan pemanfaatan sumber daya alam yang menghasilkan keragaman manfaat dan tidak ada sisa (waste) tapi industrialisasi yang menerapkan standarisasi merupakan hal yang berlawanan. Apakah bisa program industrialisasi sekaligus blue economy?. Jawabanya tentu saja  tergantung substansi dan jenis industri yang diproduksi.

Yang  menjadi pertanyaan adalah apa dan bagaimana kosep blue economy yang sedang dirancang oleh KKP?. Dari 100 invovasi produk blue economy yang diidentifikasi oleh Prof. Gunter Pauli, 3 (tiga) produk perikanan yang sudah dipasarkan antara lain: penangkapan ikan menggunakan kapal layar, kulit kepiting untuk mencuci air tambang, budidaya ikan tanpa pakan.

Penangkapan ikan menggunakan kapal layar bermula dari fakta bahwa perusahaan perikanan ada kecenderungan meningkatkan konsumsi BBM untuk penangkapan maupun industri pengolahan. Muncul inovasi yang disebut novel concept dirancang oleh Eric Le Quéré, yaitu konsep penangkapan ikan yang menghasilkan pendapatan  dengan prinsip keberlanjutan (sustainability) mulai dari penggunaan BBM sampai ke pengolahan, jenis ikan meliputi: Teri, Sardin (Lemuru) dan Salem (mackerel).   Konsepnya adalah membuat kapal yang terbuat dari bahan aluminium bekas, model Catamaran (berbadan dua), digerakkan oleh  angin dengan 4 (empat) set layar, tenaga listriknya dari generator bawah air tenaga arus dan dikombinasi dengan tenaga surya menggunakan solar cell, sumber energinya adalah angin dan matahari. Targetnya adalah zero  emission dan zero fosil fuel. Konsep tersebut menghasilkan kecepatan kapal 13 knot, bebas BBM, dan ikan yang diproses langsung di atas kapal sebanyak 50 ton dengan jumlah tenaga kerja 45 orang baik ABK maupun bagian pengolahan. Konsep ini sudah mulai beroperasi sejak tahun 2010 dan nilai ekonomi (cash flow) yang dihasilkan adalah: munculnya industri kapal jenis ini yang sudah dipatenkan (pabrik pembuat kapal ada di Inggris dan Perancis) ; biaya penangkapan yang sangat rendah dengan efek ganda sampai pengolahan di atas kapal dan penyerapan tenaga kerja baik dari industri kapal maupun tenaga kerja di atas kapal. Saat ini pemerintah Maroko sudah memesan 6 unit kapal jenis ini, yang berarti potensi pasar luar biasa karena menjawab permasalahan yang selama ini menjadi kendala utma dalam usaha penangkapan ikan, yaitu biaya operasional melaut dimana komponen terbesar adalah BBM. Inovasi  kapal penangkapan  jenis ini terbukti mampu meningkatkan nilai tambah 2.5 kali lipat dibandingkan dengan kapal jenis yang ada sekarang; kemapuan penangkapan per kapal per tahun sebesar 10 ribu ton Sardine; menghemat konsumsi BBM sebanyak 250,000 liter per tahun; memberikan kontribusi penghematan emisi CO2 sebesar 3.1 ton CO2 equivalent dengan 1 ton BBM.

Inovasi produk kulit kepiting untuk mencuci air eks tambang merupakan salah satu konsep blue economy yang sudah dipatenkan. Selama ini daerah sekitar pabrik tambang selalu masalah dengan air limbah yang mengandung logam berat dan asam sulfat yang tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi manusia. Tyler Barnes menemukan bahwa Citosan (zat biopolymer) dari kulit kepiting  mampu menyeimbangkan pH air bekas tambang dan dalam waktu yang sama mengikat zat tembaga dan besi. Kulit kepiting merupakan sampah dari industri pengolahan dan restoran yang dibuang begitu saja dan memerlukan biaya untuk pembuangan. Dengan inovasi ini nantinya kulit kepiting bisa dibeli dengan harga murah (berarti menciptakan nilai ekonomi dan tenaga kerja pengumpul); kemudian dijadikan bahan baku untuk menyaring limbah air tambang sehingga bisa menjadi air bersih. Hal ini tentu akan menciaptakan lapangan kerja dan nilai ekonomi tinggi.

Inovasi blue economy di budidaya ikan adalah mengintegrasikan peternakan babi dengan budidaya ikan air tawar. Prof. Chan mempelajari bagaimana tiap peternak babi di China mengumpulkan kotoran babi dalam satu bak dan  menghasilkan biogas. Dengan melewati saluran kolam ikan berlumut secara perlahan akan menghasilkan zat mineral bagi kehidupan yg ada di kolam. Algae yang terbentuk dari proses alami ini merupakan  makanan ikan tambahan yang sangat bagus dan sekaligus merubah air menjadi air alkaline yang akan menghasilkan keseimbangan nutrien menjadi makanan benthos, phyto dan zooplankton. Tambak berisi 7 jenis ikan air tawar tropis. Proses integrasi ternak babi dan ikan tersebut mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi dimana jenis ikan budidaya tertentu tidak perlu diberi pakan berupa pelet tapi diperoleh dari proses alami perubahan kotoran menjadi algae dst.

Apakah ketiga inovasi di atas dapat diimplementasikan di Indonesia? Tentu saja sangat bisa dan feasible, hanya saja perlu diteliti jenis ikan yang cocok dan kondisi SDM serta iklim, artinya perlu modifikasi. Selain itu, pelaksanaan di Indonesia bisa saja tidak sepenuhnya blue economy tapi jika mencapai tingkat green economy sudah bagus. Beberapa inovasi yang dapat dikategorikan sebagai green economy maupun blue economy di sektor perikanan antara lain:

Pertama,  inovasi kapal ikan hemat energy (hybrid), yaitu membuat kapal penangkapan yang modelnya adalah sesuai daerah masing masing, dimulai dari ukuran 10 sampai 30 GT, penggeraknya kombinasi angin dan motor (hybrid). Badan kapal terbuat dari HDPE (High Density Poly Uthelene) dan  Ecowood (campuran serbuk kayu bekas dan HDPE), tiang layar maksimal 2 set muka belakang dengan tiang terbuat dari pipa aluminium dan bahan layar dari poly juga. Model kapal penangkapan hybrid ini dapat diterapkan untuk semua jenis kapal mulai dari kecil sampai besar. Penulis memiliki pengalaman dalam proyek kapal layar kargo protoype KM Maruta Jaya buatan BPPT pada tahun 1993, berbobot 900 ton dengan panjang 60 meter lebih terbuat dari baja, mampu menghemat BBM sampai 40%. Armada kapal ikan Indonesia sebagian besar berukuran sekitar 20 GT, yang banyak digunakan oleh nelayan di seluruh Indonesia.  Prinsip pembuatannya simpel, tinggal menambahkan layar dengan tiangnya, badan kapal kayu yang berat diganti bahan yang lebih ringan dan total harganya lebih murah. Dengan model hybrid ini maka besarnya kapal yang sama dan kecepatan sama akan membutuhkan motor yang jauh lebih kecil (maksimal 50% dari kondisi awal). Targetnya adalah menghemat BBM minimal 50% dengan hasil penangkapan yang sama, berarti menurunkan biaya operasional minimal 30%. Untuk membuat prototype dan uji coba kapal jenis ini tidak akan memakan waktu lebih dari 1 tahun, berarti dapat dioperasikan dalam waktu yang relatif singkat. Program seperti ini tentu jauh lebih bermanfaat ketimbang proyek Inka Mina yang sarat dengan masalah.

Kedua, program swa sembada tepung ikan. Selama ini tepung ikan (fish mill) sebagian besar masih impor dari Chili sebagai bahan baku utama pakan ikan (pelet) dan mengambil porsi sampai 40% sebagai komponen utama. Harga tepung ikan impor protein tinggi sekitar Rp 16,000,- per Kg sedangkan harga tepung ikan lokal sekitar Rp 11,000 per Kg dan kandungan protein lebih rendah. Harga pakan ikan pelet untuk bandeng sekitar Rp 4000,- per Kg dan untuk Kerapu sekitar Rp 16,000,- per Kg. Bahan baku pembuatan tepung ikan berasal dari ikan rucah (ikan laut yg tidak layak konsumsi) atau hasil tangkapan samping (HTS) atau by catch. Sudah pernah ada kebijakan di jaman sebelum ada KKP, semua HTS di L. Arafura ditampung oleh kapal dan dimanfaatkan oleh P.T. Usaha Mina sebagai bahan baku tepung ikan. Masalahnya kebijakan tersebut sudah dicabut dan P.T. Usaha Mina sudah bangkrut. Saat ini kapal-kapal Pukat Udang banyak membuang HTS ke laut yang mencemari kawasan pesisir Papua, karena jika palka kapal penuh hasil tangkapan udang tentu ikan HTS harus dibuang. Sebagian ada yang dijual oleh para ABK sebagai tambahan kesejahteraan. Kendala utama pabrik tepung ikan tidak berkembang di Indonesia adalah sulitnya mendapatkan bahan baku berupa ikan rucah, kalau tokh ada harganya mahal sehingga tidak bisa menjadi bisnis yang menguntungkan. Hal ini disebabkan semua jenis ikan tangkapan dari laut dikonsumsi oleh masyarakat dalam bentuk ikan asin, pembuat baso dll. Apabila program swa sembada tepung ikan akan diterapkan, maka harus ada Permen KP yang mengatur larangan mengkonsumsi dan memperdagangkan ikan rucah dan HTS dan selanjutnya mengharuskan ikan rucah diserahkan kepada pengumpul (bisa BUMN atau kapal pengumpul Pemerintah), kemudian dijual kepada pabrik tepung ikan dengan harga murah. Dalam UU no 31 tahun 2004 tentang Perikanan pasal 7, Menteri memiliki kewenangan untuk megatur hal tersebut. Target dari inovasi ini adalah melepaskan ketergantungan impor tepung ikan agar harga pakan ikan bisa ditekan sampai 40%. Jika harga tepung ikan bisa ditekan sampai 40% maka kegiatan budidaya ikan akan sangat bergairah mendorong para pembudidaya memproduksi ikan dan dapat meningkatkan produksi ikan nasional. Efek ekonomi dan lingkungan dari program inovasi ini adalah: 1) menekan pencemaran laut karena tidak ada lagi ikan rucah dibuang di laut sampai membusuk; 2) menghidupkan pabrik tepung ikan dalam negeri, yang berarti menghasilkan nilai ekonomi dan penyeapan tenaga kerja; 3) meningkatkan daya saing produksi ikan budidaya dan meningkatkan kesejahteraan serta penyerapan tenaga kerja pembudidaya.

Ketiga, inovasi pemanfaatan limbah kulit kerang-kerangan sebagai bahan baku obat penurun Kolestrol. Saat ini limbah kulit kepiting, rajungan dan udang dari berbagai pabrik dan restoran belum dimanfaatkan sebagai bahan baku produk yang menghasilkan nilai ekonomi. Kulit kerang-kerangan mengandung zat Citosan dalam jumlah besar, merupakan zat penurun kolestrol paling efektif. Jika diolah di pabrik Farmasi sebagai bahan baku obat penurun kolestrol, maka akan menghasilkan nilai ekonomi tinggi, menyerap tenaga kerja dan meghasilkan produk unggulan.

Ketiga inovasi tersebut secara praktis dapat dilakukan, dimana prinsip-prinsip green economy atau blue economy dapat diterapkan, yaitu: memanfaatkan limbah sebagai bahan baku produk baru; menghasilkan nilai ekonomi; menyerap tenaga kerja dan menghemat energy. Ambisi untuk dapat melakukan industrialisasi produk di atas menjadi blue economy masih sangat sulit, namun sangat rasional jika paling tidak menerapkan prinsip pada level green economy. Yang penting bagi masyarakat kelautan dan perikanan adalah realisasi program yang langsung bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan dan bukan sekedar wacana, rencana dan konsep yang dipromosikan namun belum direalisasikan. Dalam waktu sampai 2014 menjelang pergantian Kabinet, menjadi pertanyaan konsep blue economy kapan dirasakan hasilnya?, atau di th 2014  tunggu berganti nama lagi program baru oleh kabinet yg baru?. Wallahualam.

Dikupas oleh Dr. Aji Sularso, Pengamat Kelautan dan Perikanan