Share it

Indonesia merupakan negara bahari dengan berbagai keindahan alamnya paling bagus di dunia dan memiliki keanekaragaman paling banyak. Tidak diragukan lagi keindahan Indonesia sangat menarik turis manca negara yang menggunakan kapal wisata (Yacht)  baik kapal motor maupun layar dan menjadi primadona dibandingkan negara lain. Pertanyaan yang timbul adalah mengapa tidak banyak Yacht masuk ke Indonesia dan justru banyak mangkal di Singapore, Malaysia, Thailand dan Australia?.  Yacht yang mau datang dalam jumlah besar selalu peserta event seperti Sail Indonesia.

Yacht adalah kapal wisata yang pada umumnya milik private atau perusahaan dan terbagi dalam berbagai kelas yaitu Yacht motor atau layar kecil panjang sampai dengan 24 meter, Super Yacht yaitu yacht motor atau layar yang panjangnya diatas 24 meter dan Mega Yachts yang panjangnya diatas 50 meter. Sedangkan Cruise ships adalaha kapal pesiar besar yang mengangkut turis dalam jumlah minimal 500 orang bahkan ada yang berkapasitas sampai lebih dari 1500 orang seperti Star Cruises, Queen Elizabeth 2 dll.

Indonesia memiliki potensi untuk menjadi “golden cruising passage” atau jalur pelayaran emas karena beberapa alasan, antara lain:

Pertama, dilihat dari kondisi gegorafis, Indonesia berada di Khatulistiwa yang memiliki iklim stabil tidak ada taifun, tidak ada gelombang atau angin yg ekstrim dan pola arus sert pola angin bisa diprediksi. Hal ini akan merupakan faktor utama bagi para pelayar  membuat rencana pelayaran  memanfaatkan pola angin dan arus. Itulah sebabnya para pelayar dapat memanfaatkan cuaca tsb kapan saja mereka inginkan dengan aman dan nyaman menyesuaikan pola arus dan angin. Demikian pula bagi kapal Yacht motor, perairan Indonesia sangat aman dan nyaman untuk wisata kapal pesiar mewah.

Kedua, dilihat dari keindahan alam dan daya tarik bagi kapal wisata baik Yacht maupun Cruise, perairan dan keplauan Indonesia tiada bandingannya, tidak ada negara di dunia seindah dan selengkap Indonesia. Keragaman bawah air meliputi terumbu  karang dan ikannya begitu menakjubkan. Bagi peselam dunia, Raja Ampat dan Komodo merupakan surga, demikian pula Banda, Selat Lembeh, Alor, Derawan merupakan daerah selam kelas dunia yg sudah terkenal.

Ketiga, keragaman budaya yang tersebar di pelosok tanah air merupakan daya tarik luar biasa bagi wisman, di setiap destinasi para wisman selalu menjumpai budaya berbeda yang unik dan menjadikan koleksi dan kenangan, apalabi sebagian besar para wisman tersebut memiliki jiwa adventure. Bandingkan dengan kalau kita berkunjung ke negara lain, pada umumnya mereka hanya punya budaya yang  sama di satu negara.

Keempat, biaya hidup di Indonesia relatif jauh lebih murah dibandingkan sebagian negara para wisman, hal ini membuat daya beli (purchasing power) mereka tinggi. Artinya uang dollar dibelanjakan di Indonesia akan mendapatkan hasil dan kenyamanan yang lebih dibandingkan jika berwisata ke negara lain. Orang Australia sebagian besar lebih senang berlibur ke Bali daripada berlibur di negaranya karena total biayanya jauh lebih hemat.

 

Daya tarik yang luar biasa tersebut tidak secara otomatis menjadikan Indonesia didatangi Yacht dalam jumlah yang banyak,  Yacht mau datang jika ada event seperti Sail Indonesia, Sail Morotai dll, atau  kondisi terpaksa. Idealnya Yachts asing bisa masuk ke Indonesia kapan saja agar dapat menjadi salah satu sumber devisa pariwisata dari hulu ke hilir. Implikasi ekonomi jika banyak Yachts berlabuh dan berlayar di Indonesia antara lain:

Pertama, industri dan jasa terkait Yachts akan hidup antara lain Marina; transportasi; perhotelan; jasa wisata, restoran, hiburan, industri kecil seperti kerajinan, telekomuikasi dan IT. Hal ini sudah terbukti di negara-negara tetangga serti Singapore, Malaysia, Thailand, Australia.

Kedua, meningkatkan rating investasi di Indonesia karena segmen ekonomi bagi bisnis pariwisata high end makin kondusif.

Ketiga, terbentuknya citra bahwa Indonesia menjadi negara yang nyaman dan aman bagi dunia Yachting yang akan berujung kepada makin meningkatnya kunjungan wisman dan Indonesia dapat menjadi destinasi wisata Yacht dan Cruise yang terbaik di dunia.

Keempat, mendorong munculnya industri kreatif dan ekonomi rakyat yang merasakan dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan tsb.

Kelima, penyerapan tenaga kerja dan membuka lapangan kerja baru dalam jumlah  besar pada usaha dari hulu ke hilir yang terkait dg Yachting.

Keenam, memicu pembangunan infrastruktur di daerah, dengan kata lain mempercepat pembangunan ekonomi di daerah dengan dampak pemerataan sebagaimana yang diharapkan dalam peogram MP3I.

Sayangnya Indonesia belum bisa sejajar dengan negara tetangga yang menjadi destinasi dan home base kapal-kapal pesiar karena ada beberapa faktor penghambat yang sebenarnya dapat diatasi jika memang ada niat dan semangat, antara lain:

Pertama, visi sebagian  besar penentu kebijakan  sektor terkait belum memandang bahwa industri dan jasa wisata Yacht dan Cruise merupakan sumber devisa yang jika digarap akan menimgkatkan nilai ekonomi dan manfaat bagi percepatan pembangunan daerah. Saat ini justru beberapa Pemda berebut untuk menjadi tuan rumah penyelenggaran event Sail karena terbukti sangat bermanfaat dalam mengembangkan perekonomian daerah.

Kedua, kebijakan dan regulasi di bidang CIQP (Custom, Immigration, Qurantine, Port Clerance) kurang bersahabat bagi yacht asing yang masuk ke Indonesia, harus mengurus CAIT (Clearance Approval for Indonesia Teritory) dan PIBS (pelaporan impor barang sementara) sebelum yacht memasuki Indonesia dengan membuat pernyataan agen atau penaggung jawab dalam bentuk personal guarantee tertulis. Paling tidak diperlukan waktu untuk mengurus kedua dokumen tersebut selama 2 minggu sampai satu bulan. Dibandingkan dengan negara tetangga, aturan tersebut paling aneh karena hanya di Indonesia sedangkan di negara lain yacht bisa langsung masuk dan semua izin diselesaikan pada waktu masuk termasuk imigrasi maupun kepabeanan. Aturan ini sudah berlangsung lama dan belum mengalami perubahan mendasar. CAIT merupakan instrumen “security clerance” karena perlunya yacht mendapatkan pengawasan dari sisi security sedangkan PIBS merupakan instrumen izin impor barang karena yacht dikategorikan barang mewah.

Ketiga, masih minimnya infra struktur bagi yacht terutama “marina” sebagai rumah atau tempat sandar labuh kapal jesis tersebut. Di Indonesia hanya ada beberapa marina yang kurang berkelas seperti di Batam, Jakarta, Bali dna Lombok Utara. Jika dibandingkan dengan Singapore ada 7 Marina, di Malaysia ada sekitar 11 marina dan di Thailand ada 10 an marina. Sedikitnya marina di Indonesia tidak memungkinkan yacht tersebut berpangkalan di Indonesia, sebagian besar mereka mangkal di negara-negara tetangga yang menjadikannya sebagai industri dan jasa yang menjanjikan. Sanga sulit bagi Indonesia menjadikan syurga bagi yacht tersebut jika tidak ada pembangunan marina dalam jumlah banyak. Ke depan perlu ada kebijakan khusus untuk mendorong swasta membangun marina di berbagai lokasi strategis seperti Bali, Bintan, Bangka Belitung, Kupang, Manado, Kaltim dengan menerapkan insentif fiskal maupun berbagai kemudahan. Di Malaysia pembangunan marina dalam jumlah besar bahkan didanai oleh negara bagian dan dikelola oleh semacam BUMN, terbukti saat ini Malaysia menjadi destinasi kapal yacht maupun cruise.

Saat ini sudah ada Perpres no 79 th 2011 yang mengatur khusus kapal yacht asing memasuki Indonesia, namun dalam prakteknya di lapangan prosedur dan biaya yang dikeluarkan tetap saja tidak ada perubahan, dan yacht asing masih enggan memasuki Indonesia. Perpres nomor 180 th 2014 baru saja dikeluarkan sebagai pengganti Perpres yang lama dengan semangat untuk memberikan kemudahan Yacht masuk ke Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan sektor pariwisata bahari melalui kunjungan wisman menggunakan Yacht. Namun, kembali sangat tergantung dari prosedur nyata di lapangan yang selalu rumit dan bayar untuk urusan CAIT; bea cukai dan syahbandar.

Kesimpulannya, Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi destinasi wisata dunia bagi kapal-kapal pesiar baik Yacht maupun Cruise yang merupakan sumber ekonomi dan devisa hanya perlu dua hal, yaitu deregulasi masalah CAIT dan prosedur kepabeanan serta memperbanyak jumlah marina di kawasan strategis sebagai pintu masuk Indonesia.