Share it

Source: Politik Indonesia

Politikindonesia – Malaysia nampaknya tak kehabisan akal dalam mempermalukan Indonesia. Petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepulauan Riau (Riau) yang menangkap tujuh nelayan Malaysia di perairan Tanjung  Berakit,  Bintan 13 Agustus lalu malah dituduh melakukan pemerasan.


Tentu saja hal itu dibantah Aji Sularso, Direktur Jendral Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Aji justru mengungkap fakta sebaliknya.”Yang terjadi sebenarnya adalah mereka (nelayan Malaysia) yang ingin menyogok anak buah saya dengan uang RM 7000. Tetapi anak buah saya menolak,” ujar Aji di Jakarta, Sabtu (04/09).

Bahkan katanya, ketujuh nelayan Malaysia yang ditangkap atas tuduhan mencuri ikan di wilayah Indonesia itu meminta untuk dilepas tanpa proses hukum. “Mereka juga menjanjikan sejumlah imbalan untuk petugas Indonesia,”tambah Aji.

Menanggapi masalah GPS kapal patroli Indonesia yang sedang rusak saat petugas melakukan penangkapan tujuh nelayan Malaysia 13 Agustus lalu, Aji mengatakan pihaknya sudah menghitung perkiraan waktu keberangkatan dari pelabuhan hingga berhasil menangkap nelayan Malaysia.

“Kita masih berada di wilayah Indonesia saat itu. Tidak mungkin kapal petugas yang berjenis speed boat bisa berlayar jauh hingga wilayah Malaysia,” ujarnya.

Aji menegaskan dirinya siap dikonfrontir dengan pihak manapun dalam masalah ini.

“Saya siap dikonfrontir. Yang jelas kami tidak pernah memelintir berita dan kami berkata jujur,” tambahnya.

Sebelumnya, Polisi Air Malaysia dalam laporannya menyatakan ada usaha pemerasan yang dilakukan petugas Indonesia terhadap keluarga dari salah satu tujuh nelayan yang ditangkap.

Dalam laporannya, Polisi Air Malaysia menulis terdapat pesan singkat dari nomor telepon yang dipercaya sebagai milik pegawai KKP Indonesia yang menginginkan tebusan RM 3500 jika menginginkan tujuh nelayan Malaysia dibebaskan.

Laporan itu kemudian diteruskan ke Kantor Polisi Kota Tinggi, Malaysia, yang mengategorikan kasus ini sebagai usaha penculikan. (sa/yk/ftu)