Share it

Sejarah mencatat sebuah pulau kecil di bagian Utara Indonesia bernama “Morotai” dikenal dengan pertempuran “Morotai” atau The Battle of Morotai pada masa Perang Dunia II sebagai bagian dari Perang Pasiifk, tepatnya tanggal 15 September tahun 1944 pertempuran antara tentara Sekutu yang dipimpin oleh Jendral Mac Arthur dengan Militer Jepang dimulai dan berakhir sampai Agustus 1945. Pertempuran dimulai pada saat pasukan Amerika Serikat dan Australia mendarat di sudut pulau bagian Selatan-Barat, dimana pasukan Sekutu memerlukan pangkalan untuk mendukung pembebasan Phillppine dari kekuasaan Jepang. Pasukan Jepang di Morotai kalah oleh pasukan Sekutu setelah terjadi pertempuran sporadis dan pasukan Jepang banyak korban akibat penyakit dan kelaparan karena kekurangan logistik. Morotai selanjutnya menjadi pangkalan atau hub logistik yang penting dalam rangka memerdekakan Philippine pada tahun1944 dan 1945, terutama sebagai pangkalan aju bagi Kapal-kapal Torpedo dan pesawat Tempur Sekutu, kemudian digunakan lagi dalam pertempuran di Kalimantan yang dipimpin oleh Australia.


Dari sejarah Perang Dunia II terbukti bahwa posisi geografis Morotai sangat strategis dilihat dari perspektif negara-negara besar pada era tersebut (Sekutu dan Jepang) atau dengan kata lain secara geopolitik dan geostrategis Morotai merupakan Pulau Kecil yang memiliki posisi penting secara global dan merupakan perbatasan Samudera Pasifik dan Indonesia. Dari perspektif geostrategis dapat dikatakan bahwa P. Morotai merupakan “the center of gravity” nya Samudera Pasifik. Pertanyaannya kemudian apakah sejauh ini P. Morotai dipandang strategis dan penting oleh bangsa Indonesia sebagai bagian penting wilayah NKRI atau pulau terluar?. Jika dilihat secara faktual sejak Indonesia merdeka dan kemudian berhasil memperjuangkan statusnya sebagai Negara Kepulauan, belum ada perlakuan atau pembangunan yang signifikan terhadap P. Morotai, dianggap sama saja dengan pulau kecil lainnya, bahkan kalah penting dengan P. Nipah yang lebih dahulu mendapatkan perhatian serius. Kalau demikian halnya, tepatlah kirianya momen tahun ini Pemerintah menyelenggarakan “Sail Morotai” sebagai ekspresi dan komitmen untuk membangkitkan kesadaran geografis bangsa Indonesia sebagai negara Maritim yang besar dan sekaligus menegaskan kembali bahwa pulau kecil Morotai merupakan bagian kedaulatan NKRI yang memiliki makna strategis baik geopolitik maupun geoekonomi. Hal ini tercermin dari tema yang diusung yaitu: “Menuju Era Baru Ekonomi Regional Pasifik”

Penamaan “Sail Morotai” tentunya patut dipertanyakan kenapa menggunakan kata “Sail”?. Jawabannya tidak terlepas dari latar belakang dan keberhasilan yang telah dicapai di masa lalu, selama tiga tahun berturut-turut. Ide dasar ditetapkannya event tahunan dengan “Sail…” bermula dari pemikiran adanya event tahunan yang sudah terkenal mendunia yaitu “Sail Indonesia”, sebuah Yacht Rally yang diberangkatkan dari Darwin, berlayar di perairan Indonesia selama tiga bulan lebih menyinggahi sekitar 20 Kabupaten Destinasi terutama pesisir. Sail Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 2003 denganpelabuhan masuk pertama di Kupang dan Saumlaki dan pelabuhan keluar di Belitung. Artinya event “Sail ….” dengan nama lokal seperti “Sail Bunaken 2009, “Sail Banda 2010”, “Sail Wakatobi-Belitung 2011” merupakan event yang memanfaatkan Sail Indonesia, dimaksudkan untuk menjadikan icon daerah menjadi terkenal di dunia. Konsep pemikiran tersebut terbukti berhasil, karena event penghelanya adalah Yacht Rally yang merupakan event tunggal Sail Indonesia namun diperkaya dengan event lain seperti Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya; Remaja Lintas Bahari, promosi Pariwisata, Bhakti Sosial dan lain lain sesuai imporvisasi berdasarkan kemapuan Panitia Nasional dalam memanfaatkan potensi Kementrian/Lembaga dan potensi daerah. Dari berbagai bukti empiris pengalaman manfaatnya bagi masyarakat di daerah, kegiatan “Sail…” tiap tahun berujung kepada suatu kesimpulan merupakan model percepatan pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan. Dengan berbekal Kepres kepanitiaan nasional, lebih dri 15 Kementrian/Lembaga terlibat sebagai penyelenggara dan pendukung mulai dari penyiapan infrastruktur seperti jalan, listrik, pelabuhan, telpon, trnasportasi dll yang dikerubut dalam satu tahun anggaran dibawah koordinasi Menko Kesra. Hal inilah yang menyebabkan event “Sail..” menjadi rebutan daerah untuk menjadi tuan rumah dan iconnya diusulkan sebagai nama event. Bahkan untuk tahun 2013 sudah ada dua Provinsi yang meminta yaitu NTT dan Kaltim yang bisa saja diusulkan dengan nama “Sail Komodo-Derawan 2013”. Manfaat yang sangat besar bagi daerah penyelenggara adalah aspek ekonomi, sosial, budaya dan kemajuan daerah tersebut menjadi destinasi wisata yang makin populer dan pasca event selalu terjadi peningkatan kegiatan perekonomian sebagai dampak membaiknya infrastruktur, meningkat tajamnya arus orang dan barang keluar dan masuk daerah tersebut. Belum ada dalam sejarah pembangunan nasional, suatu event kecualai event “Sail…” yang dapat menggabungkan berbagai program Kementrian/Lembaga yang dilaksanakan di satu Provinsi dalam satu tahun anggaran dengan hasil atau outcome yang sangat positif baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Beberapa keberhasilan event Sail tiap tahun penyelenggaraan antara lain: meningkatnya pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandar udara, pelabuhan serta tumbuhnya hotel-hotel berbintang dan meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat serta makin dikenalnya daerah tersebut sebagai destinasi pariwisata. Dari perspektif wisatawan asing dan para Yachter, destinasi yang dikenal adalah daerah yang memiliki potensi wisata bahari paling alami dan memiliki keindaahan pantai, bawah laut maupun kekayaan budayanya. Faktor penentu keberhasilan event salah satunya adalah jumlah Yacht peserta yang akan datang ke daerah destinasi yang disiapkan oleh Panitia. Hal ini tidaklah mudah karena rute ke Morotai tidak favourable bagi Sailing Yacht yang mengandalkan arah angin. Oleh karenanya perlu ada daya tarik yang diciptakan oleh Panitia Nasional agar mereka mau berlayar menuju Morotai. Rute Sail Morotai 2012 dirancang sedemikian rupa sehingga ada dua sumber peserta Yacht yang berasal dari Darwin merupakan peserta Sail Indonesia dan dari Davao merupakan rute baru. Sejauh ini publikasi untuk Yacht Rally hanya dilakukan melalui website termasuk registrasinya. Intensitas Panitia dalam komunikasi, publikasi dan networking dengan basis-basis Yacht di negara tetangga sangat menentukan jumlah peserta.

Jumlah peserta Sail Indonesia diperkirakan lebih dari 100 kapal dan diharapkan paling tidak 40 Yacht singgah di Ternate dan Yacht dari Davao singgah di Morotai pada saat acara puncak. Selama tiga tahun berturut-turut Yacht Rally berjalan lancar dengan jumlah peserta cukup banyak, untuk Sail Morotai kali ini sangat tergantung dari keseriusan Panitia dimana KKP sebagai lead, dan merupakan peluang bagi KKP untuk mendapatkan pengakuan ( legacy ) dalam pembangunan Kelautan. Adalah sangat sulit untuk mendapatkan event atau program yang mendapatkan legitimasi Kepres dimana KKP sebagai inisator dan Kementrian/Lembaga lain beraprtisipasi aktif dengan mengalokasikan anggaran masing-masing untuk mendorong percepatan pembangunan di satu Provinsi dalam satu tahun anggaran. Oleh karenanya Sail Morotasi harus sukses, tidak ada kata tidak sukses, karena akan mendelegitimasi peran KKP di masa datang.

Dikupas oleh Dr. Aji Sularso, Pengamat Kelautan dan Perikanan